Rabu, 07 Juli 2010

Ga Liqo Ga Untung

Ga Liqo Ga Untung

Dunia dakwah kita juga merupakan kompetesi. Hanya mereka yang terperdayakan yang senantiasa siap memikul dakwah. Beban dakwah hanya sanggup dipikul oleh mereka yang mengerti tentang apa dan bagaimana dakwah itu. Tim dakwah membutuhkan anggota tim yang cerdas, qowi, matin, dan bertanggung jawab. Karakter tersebut hanya didapatkan dengan pembinaan diri. Artinya, kita memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Kebutuhan perpolitikan dakwah membutuhkan komitmen yang jelas. . Yang mengharuskan kita berdakwah bukan dengan figure tetapi dengan dakwah itu sendiri. Telah jelas kebutaan objek dakwah yang kita hadapai saat ini adalah orang-orang yang buta terhadap “materi” dan “kepemahaman” Islam dan hanya menonjolkan figuritas semata. Terbukti pernikahan kedua Aa Gym dihujat oleh “ pengikut”nya sendiri, “ pengikut” yang kesannya hanya menonjolkan dari sisi figurnya saja. Padahal masih banyak yang perlu di cross cek balikkan. Kesalahan ini semestestinya mampu menjadi ibroh bagi mereka yang mengaku gerakan barisan dakwah. Sehingga barisan ini mampu mengubah metodologi dakwah yang selama ini mereka pergunakan. Kebutuhan objek dakwah tidak semata-mata figure tetapi tetapi dengan aktivitas dakwahnya.
Liqo? Bagaimana kita mempossikan keberadaannya. Sesuatu aktivitas rutin mingguan, apakah sudah benar-benar membina diri dan memperbaiki diri kita. Atau hanya sekedar formalitas absensi keberadaan kita di forum suci tersebut. Liqo, suatu cincin lingkaran yang menyatukan beberapa orang dengan berbagai pemikiran dan taraf ilmu. Untuk itulah kita saling berbagi, saling memperbaiki bersama. Dakwah fardhiyah (person to person) yang membuahkan hasil yang paten dan permanen meskipun ini memerlukan waktu yang lama dalam istilah kerennya ISTIMRORIYAH (bertahap dan berkesinambungan), . Sudah barang tentu diakui bahwa pembinaan diri individu yang kontinue dengan taraf dan target capain muwashoffat tertentu lebih menghasilkan perbaikan yang signifikan. Dengan catatan, liqo’ yang dilakukan muntij (produktif). Forum tersebut semacam kaderisasi sel yang membidik, memantau mengawasi mad’u yang membutuhkan energi tidak sedikit demi terbentuknya seorang yang berkepribadian yang Islami dan berkepribadian dai. Dalam biologi, sel adalah bagian terkecil makluk hidup. Kita adalah sel, Kenapa sel? Karena pada dasarnya kita adalah ornamen kecil pembentuk peradaban yang sedimikian besarnyatak ubahnya sebagai ornamen kecil tetapi fundamental yang menopang tegaknya peradaban yang akan kita bangun dan cita-citakan. Tak hanya itu forum liqo mempunyai pengarahan strategi dakwah kedepan. Bukan berjalan tanpa arah, atau bahkan kehilangan arah. Arah perjuangan yang telah dirintis para muasis dakwah sejak dulu apakah terhancurkan karena ketidakrapian kita dalam barisan ini.
Seberapa urgent kah forum halaqoh ini untuk perkembangan dakwah, baik fase tandzimy (system) dan fase takwiny< (pembentukan awal) seseorang. Hasil yang kongruen seharusnya!, semakin banyak umur liqo seseorang semakin banyak capain muwashoffat yang ia punyai. Sejalan dengan itu perbaikan diri akan semakin teruji. Seperti itulah liqo’ yang ideal. Atau jangan-jangan semakin tua umur liqo kita berumur semakin kacaw saja perbaikan kita. Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat disayangkan dan perlu dicari akar permasalahan yang kemudian dari akar permasalahan itu dapat diketemukan solusi yang real.
Sakralnya forum ini, kadang tidak terlalu diperhatikan. Mungkin ada yang beranggapan sesuatu yang ada disana adalah sesuatu yang disetting “ seperti itu –itu saja” diawalitasmiyah, tausiyah bergilir, curhat n the solusi ( Qodhoya wa Rowa’I ), Taujih dari Mr, hamdalah. Seperti kebiasaan, yang katane’ sesuatu yang dibiasakan dalam amalan itu bid’ah. Sebenarnya modifikasi dalam Liqo’ sah-sah saja, kenyamanan dan ketidaknyamanan dalam forum tanggungjawab bersama antara Mr dan Mtr. (baca Murrobi’ dan Mutarrobi’). Bukankah ada sarana (usroh) yang lain seprti mukhoyam (berkemah), ta’lim bersama, kunjungan ustdaz, rihlah, mabit ruhy, dsb. Sehingga terkadang seorang aktivis dakwah lebih mementingkan kegiatan lembaganya daripada forum ini. Sejauh mana keterikatan hati ini dalam memperjuangkan kepentingan umat demi sesuatu yang seharusnya memantik kita untuk memperbaiki diri. Jika antunna semua kurang menganggap pentingnya Liqo’ dalam aktivitas dakwahnya perlu dibuat grafik produktivitas di lembaga dan ranah kajian lain. Kita adalah batu bata penyusun tembok tinggi peradaban, tak peduli kita berada dimana, diatas atau dibawah, atau bahkan sebagian diri kita terpotong untuk mengganjal dan melengkapi lubangan tembok peradaban itu. Sudah selayaknya kita bersabar, kesabaran untuk proses kita menuju tercapainya kebangkitan islam yang kita idam-idamkan.
Sebenarnya banyak metode lain untuk memperbaiki diri dan penanaman konsep pemahaman selain liqo, bisa melalui ta’lim, dauroh, mabit ruhy, dan diskusi. Akan tetapi nilai lebih dari liqo’ perkembangan dari mad’u bisa terpantau dan terperdayakan sesuai dengan galian potensi yang ia miliki. Pada dasarnya dalam semua lingkungan dan ranah manapun kita bisa berdakwah, dalam hal ini tentunya memerlukan kader yang mempunyai spesifikasi dan kualifikasi yang memadai untuk diterjunkan dalam amanah dan wasilah serta wajihah tertentu. Oleh karena itu bukan hanya sekedar keaktifan ia di wasilah tertentu tetapi kadar keislaman dan kepemahaman syumulatul dien yang ia punyai. Aktivitas di medan dakwah memerlukan orang-orang yang komitmen dan sekaligus “paham”. Tanpa keduanya seseorang dalam menjalankan amanahnya akan cenderung fluktuatif dan unprogresif. Karena yang ia punyai hanya sebatas semangat tanpa diiringi kepehaman yang bersumber dari ilmu dien yang benar.
Orang yang rajin ta’lim juga tidak menjamin dalam hatinya sebenarnya pengen sekali menularkan ilmunya untuk orang lain tetapi tidak terlalu berani menyampaikan ke orang lain ( baca berdakwah red ) yang bukan teman dekatnya sendiri. Oleh karena itu solusinya adalah meliqo’i. Penanaman nilai-nilai keimanan yang dilakukan dengan cara-cara yang konvensional selama ini bisa terkalahkan pengaruhnya oleh derasnya arus informasi yang secara konsisten menyapa mereka. Kaum muslimin diperintahkan pergi ke masjid setiap hari Jumat untuk mendengarkan khutbah dari para khathib yang mengajak mereka kepada keimanan dan ketaqwaan. Majelis Ta’lim dan Tabligh Akbar senantiasa padat dihadiri kaum ibu di setiap tempat. Seminar-seminar dan diskusi keislaman mengupas berbagai tema juga marak dihadiri kaum muslimah. Seluruhnya itu tidak akan membawa dampak dan pengaruh yang kuat pada diri kaum muslimin dan muslimah apabila tidak dibarengi dengan proses penanaman nilai yang konsisten dan berkesinambungan.
Berbagai kegiatan yang ditawarkan untuk penjagaan keimanan selama ini masih diwarnai oleh sejumlah kelemahan dalam unsur taujih (pengarahan) yang ditampakkan antara lain dari silabus materi yang terprogram, terstruktur dan berkelanjutan. Sebagian yang lain masih berkesan “daripada tidak sama sekali”. Kegiatan untuk sentuhan awal dengan Islam yang penuh nuansa entertainment tersebut bisa tetap dilangsungkan, akan tetapi segera ditindaklanjuti dengan penawaran kegiatan tarbiyah (pembinaan), yang akan membawa masyarakat menuju kepada penanaman dan penjagaan nilai keimanan secara terprogram dan berkelanjutan. Tarbiyah menawarkan silabus yang mebuat peserta didik berada dalam suasana kesungguhan, bukan semata hiburan. Tarbiyah membawa masyarakat berada dalam suasana kedisiplinan dalam melakukan penjagaan diri, bukan semata-mata sebuah bentuk “mengisi waktu luang”.
“…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka “ ( Qs 3:190-191)
Liqo bukan segala-galanya tetapi segala-galanya bermula dari sini. Semacam doktrin resmikah ini? Tidak saudaraku. Memang ada benarnya, setiap pemantauan akan keikutsertaan kita dalam dakwah bisa dipantau dalam forum ini. Untuk itulah adanya forum berbagi diutamakan. Menuntut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan, ada seorang teman yang mengatakan perbanyaklah menuntut ilmu, karena ilmu yang benarlah yang akan menjaga kita, kalau boleh ana menambahkan saling berbagilah ilmu, Karena berbagi lebih banyak menuai arti.. Elemen penting yang mendukung terbentuknya liqo yang kondusif adalah murrobi, muttarobi, managemen forum, materi. Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan murrobi adalah amniyah. Kenapa amniyah? Coba cari referensi sendiri!
Ga liqo Ga untung, apasih untungnya menyendiri dalam pergerakan dakwah ini. semua butuh penataan dan system, ada kalanya system teramat rumit dan elegan untuk kita jangkau.. Sistem sendiri sudah benar, hanya saja orang-orang yang berada didalamnya pembuat kebijaksanaan yang kadang kala tidak memuaskan Namun kekecewaaan dan ketidakpuasan sering kita terhadap system jangan pernah melunturkan semangat kita untuk berdakwah, bukan begitu saudaraku?
Ingatlah domba yang sendirian lebih mudah tertekam singa, daripada domba yang bergerombol. Barisan ini adalah barisan yang ditata, bukan barisan yang bergerombol tak beraturan. Bukankah kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir. Sehingga kita selalau dituntut untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa bukan untuk orang lain melainkan untuk kita sendiri. Perbaikan diri menuju yang lebih baik juga merupakan jihad. Sesungguhnya jika engkau berjihad, maka jihadmu adalah untuk dirimu sendiri.
“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling bertaqwa” (Al Hujurat: 13).
Setelah kita dibina dengan liqo dan bergerak dibarisan dakwah dan terjerumus di jalan kebenaran (minjem istilahe havidz) perguliran dakwah harus kita lalui terus dan aktivitas berdakwah-pun seharusnya tidak berhenti. Dari tadi ngomongin dakwah melulu, sebenarnya apa yang kita dakwahkan? Sebagaimana ajaran keilahian dan pengutusan rosul dimuka bumi adalah untuk mengajarkan TAUHID dan AKHLAK dengan ILMU yang benar. Sehingga tujuan dari liqo terbentuknya pribadi yang islami dan pribadi seorang da’I tercapai hingga pada akhirnya kita menyadari bahwa sebenarnya kita dibentuk untuk menjadi seorang ustadziatul alam!
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (At Tahrim: 6 )
Masih mau bolos Liqo lagi? Masya Alloh…



http://mii.fmipa.ugm.ac.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar anda di blog kami n_n
trims ...